Arsip Blog

Melebihkannya Tidak Membuat Kita Menjadi Fakir

18033892_633036950221078_7790476738137506470_nTadi pagi, diantara beceknya pasar tradisional, aku mengantri untuk dilayani, di tukang ikan.

“Mahal amat, kurangi deh, ikan kayak gini, udah nggak segar,”tawar ibu berambut hasil rebonding itu.

“25ribu itu udah pas Bu, karna udah siang, kalo pagi, nggak kurang dari 30ribu,”jawab ibu penjual ikan. Read the rest of this entry

Iklan

Muslimah adalah Istri Siaga

Sahabat Muslimah yang Shalihah…
Bagaimana seharusnya yang dilakukan istri saat menyambut kedatangan suami ketika pulang kerumah? Apakah cukup dengan bermuka manis?Ada diantara sekian istri ketika suami datang ternyata istri tidak ada di rumah. Mungkin terjadi karena para istri masih dinas di tempat kerja, di rumah teman atau karena urusan yang lain. Ada pula seorang istri yang ketika suaminya datang ia berada dirumah, namun ia tidak pandai menyambutnya. Tidakmemperhatikan kedatangannya atau acuh tak acuh seolah menganggap hal biasa saja dengan alasan ia masih sibuk dengan urusan rumah atau yang lain. Bahkan ada yang lebih parah lagi ketika suami pulang, sang istri langsung menyambutnya. Namun… dengan wajah cemberut dibarengi dengan kata-kata yang tidak mengenakkan baik keluhan, omelan atau masalah yang membuatnya tertekan. Masya Alloh…….. Jika ini terjadi bisa kebayang, bagaimana perasaan suami. Dikala pulang rasanya ingin melepas lelah dan mengurai kepenatan setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan, namun yang didapatkan justru malah mendapatkan tambahan masalah.
Read the rest of this entry

Sebab Mekarmu Hanya Sekali: “Sabar dan Istiqomah”

1_784549069lAkhirnya, puncak dari segala upaya dan ikhtiar adalah terus bersabar dan berusaha istiqamah. Aku sangat paham bahwa saat ini di sekelilingmu telah mengepung segala kemaksiatan yang seringkali tak mampu kau hindari. Bangkubangku sekolah dan kampus, fasilitas umum dan sarana transportasi, bahkan sampai di sudut-sudut ruang perkantoran serta pabrik, telah dipenuhi oleh budaya percampuran bebas yang telah berlangsung semenjak lama. Praktek ikhtilath di tengah-tengah masyarakat memang telah menjadi sebuah kebiasaan yang dipandang wajar. Read the rest of this entry

Belajar Hidup Dari Tawakkalnya Burung

Foto: -- Belajar Hidup Dari Tawakkalnya BurungKetika pagi menjelang, mengapa tidak semua manusia sebahagia burung ?Burung tak pernah melewatkan pagi tanpa keceriaan.Mereka menari di dahan dan ranting pepohonan, seraya berlomba menyanyikan kicauannya yang merdu. Mereka semua nampak bahagia. Tentunya, mereka sebahagia itu bukan lantaran punya segudang uang. Mereka berlaku begitu,bukan juga karena punya uang timbunan makan yang siap santap mereka jadi ceria.Mereka bahkan tak pernah memikirkan berapa harta yang di miliki, atau berapa banyak makanan mereka punyai. Mereka hanya tahu dengan insting yang Allah titipkan pada jiwa mereka yang sederhana, bahwa hari ini adalah hari yang indah,dimana sejumput rejeki telah menanti,sebagai jatah pasti dari Dzat yang Maha pemberi.Sebaliknya , pemandangan berbeda tampak pada manusia. Banyak dari mereka yang nyaris tak merasa bahagia saat pagi tiba. Jangankan bernyanyi dan menari seperti burung, untuk sekedar tersenyumpun begitu canggung. Sepertinya setumpuk rasa takut telah lebih dahulu jatuh di atas kepala mereka sebelum sempat menyaksikan indahnya suasana pagi.Soal rejeki biasanya menjadi pemicu utama kekhawatiran mereka, disamping ketakutan terhadap berbagi persoalan hidup lainnya yang belum dapat mereka atasi, atau malah tak akan pernah bisa mereka atasi.Mereka yang miskin dan pengangguran merasa khawatir : apakah hari ini saya dapat makan ? Kemana lagi harus mencari pekerjaan ? Apakah lamaran saya diterima ? Kepada siapa lagi mesti berutang ? Kemana mesti jika yang menagih utang datang ?Yang hidupnya lumayan pun belum tentu bisa tenang : bagaimana saya harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk hari ini ? Apakah hasil pekerjaan saya akan memuaskan Bos? Kapan saya naik Gaji ? Bagaimana caranya karir saya cepat naik ? Kemana mencari pekerjaan yang lebih baik ?Yang lebih mapan juga tetap kebingungan : Apakah hari ini saya bisa memenangkan tender? Siapakah yang harus saya suap supaya proyek itu jatuh ketangan saya? Bagaimana kalo proyek itu direbut oleh kompetitor saya ?Demikianlah berbagai kekhawatiran berseliweran di kepala masing – masing orang. Pertanyaan-pertanyaan bernada ketakutan itu ibarat komponen – komponen yang terangkai menjadi mesin penggilas benih-benih kebahagiaan,sehingga tak mungkin tumbuh lagi dihari itu.Bisakah manusaia seperti burung ?Tentu saja bisa .bahkan seharusnya manusia lebih berhak bahagia daripada burung. Bukankah manusia telah Allah jadikan sebagai makhluk paling mulia ?Meskipun begitu,harus diakui dalam hal kebahagiaan ini,burung memang jauh lebih unggul daripada manusia. Oleh karena itu ,seyogyanya manusia tak malu untuk belajar pada burung.Kalau begitu, apa yang kita dapat pelajari dari burung ? Sederhana saja, yaitu soal tawakal, atau berserah diri. Dengan modal tawakal itulah burung menyapa pagi yang setiap kita jumpai. Dengan tawakal pula,mereka terbang kian kemari, menjemput rezeki  yang yakin akan mereka temui.Dan dengan tawakal pula mereka pulang keperaduan di sore hari , dengan perut terisi ,dan tak pernah pusing memikirkan urusan perut mereka esok pagi.Hari ini telah mereka jalani dengan baik, dan besok serahkan saja kepada sang khaliq.Kemarin pun mereka tak memikirkan hari ini,tapi mereka tetap hidup dan beroleh rezeki, jadi mengapa harus memikirkan pusing-pusing esok hari ?Persoalan rezeki sudah diatur oleh sang pencipta, hal penting yang perlu dilakukan adalah menyempurnakan ikhtiar, perkuat dengan do’a, dan tawakkal secara total kepada Alloh. Insya Allah, jika ikhtiar, doa serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Oleh karena itu selayaknyalah kita tidak perlu risau  mengenai urusan rezeki yang Allah SWT berikan , karena  Sang Pemberi Rezeki telah menjamin kehidupan kita.--

Ketika pagi menjelang, mengapa tidak semua manusia sebahagia burung ?

Burung tak pernah melewatkan pagi tanpa keceriaan.Mereka menari di dahan dan ranting pepohonan, seraya berlomba menyanyikan kicauannya yang merdu. Mereka semua nampak bahagia. Tentunya, mereka sebahagia itu bukan lantaran punya segudang uang. Mereka berlaku begitu,bukan juga karena punya uang timbunan makan yang siap santap mereka jadi ceria. Read the rest of this entry

Wanita Yang Menjaga Amanat

imagesBerkata seorang suami kepada temannya:
“Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”

Maka berkata temannya dengan heran:
“Bagaimana hal itu bisa terjadi?!”

Berkata sang suami:
“Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’
Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’
Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’” Read the rest of this entry