Diposkan pada Al Islam, Motivasi, Muhasabah, Muslimah

Muslimah adalah Istri Siaga

Sahabat Muslimah yang Shalihah…
Bagaimana seharusnya yang dilakukan istri saat menyambut kedatangan suami ketika pulang kerumah? Apakah cukup dengan bermuka manis?Ada diantara sekian istri ketika suami datang ternyata istri tidak ada di rumah. Mungkin terjadi karena para istri masih dinas di tempat kerja, di rumah teman atau karena urusan yang lain. Ada pula seorang istri yang ketika suaminya datang ia berada dirumah, namun ia tidak pandai menyambutnya. Tidakmemperhatikan kedatangannya atau acuh tak acuh seolah menganggap hal biasa saja dengan alasan ia masih sibuk dengan urusan rumah atau yang lain. Bahkan ada yang lebih parah lagi ketika suami pulang, sang istri langsung menyambutnya. Namun… dengan wajah cemberut dibarengi dengan kata-kata yang tidak mengenakkan baik keluhan, omelan atau masalah yang membuatnya tertekan. Masya Alloh…….. Jika ini terjadi bisa kebayang, bagaimana perasaan suami. Dikala pulang rasanya ingin melepas lelah dan mengurai kepenatan setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan, namun yang didapatkan justru malah mendapatkan tambahan masalah.

Sahabat Muslimah…

Sebenarnya sebagai Muslimah telah banyak contoh akhlak dari para sohibah dan istri Rosululloh dikala mereka menyambut suaminya saat pulang ke rumah.

Pertama, Ibunda Sayyidah Khodijah

Bagaimana beliau menyambut suaminya baginda Rosululloh SAW ketika datang dari gua hiro dengan rasa takut yang dibawa kekasihnya setelah datang wahyu pertama yang disampaikan oleh malaikat jibril dalam wujud yang sebenarnya. Dikala badan Rosul gemetar dan menggigil, mulut bak terkunci yang hanya mampu berucap kepada istrinya: “selimuti aku, selimuti aku, selimuti aku!” Maka ibunda Khodijah pun segera menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Sehingga rasa takut yang dialami Rosululloh hilang. Barulah setelah keadaan Rosululloh mulai tenang, ibunda Khodijah bertanya: “Ada apa denganmu wahai kekasihku?” Kemudian Rosululloh bersabda kepada Ibunda Khodijah RA : “Sesungguhnya aku (Rosululloh) merasa hawatir dengan keselamatan diriku”. Dikala mendengar kalimat kekhawatiran mengalir dari lisan suaminya, Ibunda Khodijah memberikan jawaban dengan nada menghibur: “Tidak, Demi Alloh, Alloh tidak akan menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya Engkau adalah seorang yang suka bersilaturrohim, meringankan beban orang yang kepayahan, membantu orang yang tidak punya, menghormati tamu, dan suka menolong orang lain manakala petaka datang menimpa semuanya” .

Ibunda Khodijah pun berusaha mencarikan solusi. Sesaat kemudian ibunda khodijah mengajak Rosululloh untuk menemui Waroqoh bin Naufal anak lelaki dari paman ibunda, (Waroqoh bin Naufal adalah seorang ahli kitab yang pandai menulis Al-Kitab dengan bahasa ibrani dan usianya telah lanjut saat itu).
Begitulah ibunda Khodijah berakhlaq dengan akhlak terbaik dikala belahan jiwanya pulang dalam keadaan takut. Ketika Rosululloh memintanya untuk menyelimuti beliau segera menyelimuti dan setelah keadaan tenang beliau menenangkan hati Rosululloh dengan pujian yang dibungkus kasih sayang. Tidak berhenti di situ, ibunda juga mencarikan solusi atas ketakutan dan kehawatiran yang dihadapi Rosululloh dengan mengajak Rosululloh mendatangi Waroqoh.

Kedua, Ummahatul Mukminin Beliau adalah Ummu Salamah

Pada suatu hari Rosululloh (suami Ummu Salamah) masuk kerumahnya dengan wajah yang murung. Keadaan ini membuat Ummu Salamah merasa khawatir akan keadaan suaminya, jangan-jangan beliau sakit. Ummu Salamah bertanya: “Wahai Rosululloh, mengapa Engkau berwajah murung?” Rosululloh menjawab: “Karena tujuh dinar yang kita dapatkan kemarin dan sampai petang hari ini masih berada di bawah tikar”.

Mendengar jawaban dari Rosululloh, Ummu Salamah tidak membantah ataupun membela diri akan keberadaan uang yang dimaksud Rosululloh. Bahkan Ummu Salamah segera memberikan uang tersebut untuk dishodaqohkan.

Begitulah Ummu Salamah amat perhatian kepada suami. Beliau sangat memahami Rosululloh ketika berbeda dengan kebiasaannya yang selalu tersenyum dan senang, tapi Rosululloh datang dengan wajah murung. Ummu Salamah pun langsung mengambil sikap terbaik supaya suaminya kembali bahagia dengan mentaatinya.

Ketiga, Ummu Sulaim istri Abu Tholhah

Suatu hari Abu Tholhah memiliki seorang anak laki-laki yang sedang sakit. Namun karena ada suatu kepentingan, Abu Tholhah harus keluar rumah. Namun di saat Abu Tholhah tidak di rumah, anak laki-laki yang sedang sakit tersebut meninggal dunia. Bagaimanakah Ummu Sulaim mensikapinya?

Sepulangnya Abu Tholhah dari kepergiannya beliau menanyakan keadaan anaknya kepada istrinya. “Bagaimana keadaan anakku?” Ummu sulaim menjawab: ” Dia sekarang dalam keadaan yang sangat tenang”. Kemudian Ummu Sulaim menyajikan hidangan makan malam dan Abu Tolhah pun segera menikmati hidangan yang sudah disajikan istri tercintanya. Kemudian Ummu Sulaimpun melayani suaminya sebagimana yang dilakukan pasangan suami istri.

Setelah usai semuanya barulah Ummu Sulaim mengabarkan akan keadaan anak laki-lakinya dengan penuh hati-hati. Ummu Sulaim berkata:” Wahai Abu Tholhah, pantaskah suatu kaum bersedih hati bila barang pinjaman yang dipinjamnya hingga berada di tangan mereka selama yang dikehandaki oleh Alloh diambil oleh pemilik barang tersebut dan mengambilnya dari tangan kaum yang meminjamnya?” Abu Tholhah menjawab: “Tidak pantas”. Kemudian Ummu sulaim berkata dengan terus terang: “Sesungguhnya anakmu telah meninggal dunia”. Abu Tholhah balik bertanya: “Di mana dia sekarang?” Ummu Sulaim menjawab:” inilah dia! Sejak tadi kusembunyikan di dalam selimut” Abu Tholhah kemudian membukanya dan mengucapkan kalimah istirja’ “(innaa lillahi wainnaa ilaihi rooji’un)”.

Pagi harinya barulah Abu Tholhah mengadukan peristiwa itu kepada Rosululloh SAW, maka Rosululloh pun bersabda: “Demi yang telah mengutusku untuk menyampaikan kebenaran sesungguhnya Alloh SWT telah menanamkan di dalam rahimnya anak laki-laki lain berkat kesabarannya saat ditinggal mati oleh anaknya”.

Begitulah Ummu Sulaim menyambut kedatangan suaminya Abu Tholhah. Walaupun beliau dalam keadaan sedih akan tetapi beliau bisa menyambut suaminya dengan penuh kasih sayang walaupun dirinya sendiri sebenarnya memendam beban mental yang teramat sangat berat karena baru saja ditinggal meninggal buah hatinya.

Dari beberapa kisah para shohibah dikala menyambut suami, kita dapat mengambil pelajaran bahwa sahabat muslimah dikala telah menjadi istri berusaha memiliki karakter:

  1. Menyambutnya dengan senyuman penuh cinta kasih.
  2. Menyiapkan segala yang dibutuhkan suami baik pakaian, hidangan ataupun yang lain.
  3. Mencari waktu yang tepat untuk membicarakan sebuah masalah yang dihadapi.
  4. Mengatur ucapan dengan penuh rasa hormat dan santun.
  5. Selalu belajar sehingga berwawasan luas, supaya mampu membantu suami mencarikan solusi dan memberikan semangat

Sahabat Muslimah…

Kita memang harus menyiapkan diri untuk menjadi istri siaga yang siap menghadapi masalah seberat apapun dan mampu bersikap dengan baik-baiknya dalam keadaan susah maupun senang. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s