Diposkan pada Goresan Tangan, Kisah Penuh Hikmah, Muhasabah

Maafkan Aku Murid-Muridku..

Maafkan Aku Murid-Muridku..

Ilustrasi

Sudah bukan rahasia lagi jika dalam alam kapitalistik ini sistem pendidikan kita tak ubahnya seperti pabrik yang memproduksi sarjana robot yang kelak hanya mampu mengisi kekosongan sekrup-sekrup mesin industri dan sederet infrastruktur pendukungnya. Yang dingin, mati rasa, dan materialistik. Kurikulum yang seharusnya dibuat berdasarkan kondisi murid, namun yang terjadi adalah kebalikannya, kondisi murid yang harus menyesuaikan kurikulum. Bakat, minat, dan kemampuan murid cenderung dipukul rata, seperti mencetak batu bata. Namun, alhamdulillah, selalu ada segaris cahaya perak ditengah kabut yang menyelimuti. Berikut sebuah kisah yang dituturkan seorang praktisi dan konselor pendidikan, Bapak Munif Chatib dalam sebuah seminarnya;

Jarang memang ada guru yang minta maaf kepada para muridnya. Namun kejadian itu terjadi ketika saya memberi seminar di aula RSUP. DR. Sardjito Yogyakarta, Ahad 8 September 2013 yang diikuti oleh sekitar 350 peserta, yang diselenggarakan oleh Yayasan Salman Al Farisi Yogyakarta. Ketika saya minta salah satu guru memberi testimoni tentang bagaimana seorang guru memandang bakat siswa-siswanya. Seorang guru mengacungkan tangan.

“Pada kesempatan ini, meski tidak didengar oleh murid-muridku. Mohon izin Pak Munif, saya minta maaf kepada semua muridku. Selama puluhan tahun saya mengajar di SMA, jujur saya tidak pernah bertanya kepada murid-muridku tentang apa saja bakatnya. Saya seperti guru robot. Saya seperti mesin pencetak bata batu yang Pak Munif katakan tadi. Pokoknya saya mengajar dan mencetak anak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Apa yang kurikulum inginkan. Saya tidak pernah memperhatikan rasa sukanya, yang mungkin itu adalah bakatnya. Padahal dari seminar ini saya tahu, bakat sangat penting untuk menunjang profesi mereka kelak. Saya berdosa Pak Munif. Terima kasih sudah di sadarkan. Pulang dari seminar ini, besok akan saya tanya satu-persatu muridku apa saja bakatnya. Mungkin saya tidak dapat berbuat banyak terhadap bakat mereka, tapi minimal saya tahu. Sebab dari situlah saya bisa masuk dalam dunia murid-muridku. Sungguh tulus saya mohon maaf kehadirat Allah SWT, semoga dosa-dosa saya dimaafkan.”

Pilu mendengarnya. Apalagi guru yang sudah paruh baya itu menangis. Cukup membuat rasa haru biru seluruh pesereta seminar dan menjadi bahan instrospeksi untuk semua guru.

Sumber: MuslimahZone / https://www.facebook.com/munif.chatib

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s