Aku Ingin Menjadi Istri Seorang Mujahid

Sebut saja namanya fulanah binti fulan, dia adalah seorang wanita yang kira-kira 17 tahun lamanya telah hidup menjand. Perkawinan dengan seorang laki-laki nasrani yang sempat menjadi tambatan hatinya kandas dan berakhir dengan perceraian, padahal buah cinta dari pernikahan tersebut telah melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama ghulam, di mana pada saat itu si kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang dari keduanya. Namun perceraian tak bisa di hindari lagi, fulanah tetap memutuskan untuk berpisah dari suaminya itu.

Setelah proses perceraian selesai, fulanah pun pergi meninggalkan kotanya, sebuah kota yang telah menjadi saksi suka dukanya selama ini, di pergi mengarungi samudera melalui selat meninggalkan pulau sumatera menuju ke salah satu tempat yang ada di daerah kota bandung.

Dan fulanah pun memulai hidup barunya, hari-harinya ia lewati dengan seorang diri tanpa di dampingi sang suami. Lika-liku kehidupannya telah membentuk pribadi wanita yang berumur kurang lebih 40 an itu, fulanah menjadi seorang wanita yang memiliki ketegaran jiwa dalam mengarungi kehidupan. Mulai dari mencari uang demi untuk menafkahi keluarganya sampai kepada masalah si ghulam yang sekarang sudah beranjak dewasa, semuanya ia hadapi dengan seorang diri.

Ghulam, karena bergaul dengan sekawanan berandal yang berada di lingkungan komplek rumahnya, berpengaruh besar kepada tingkah dan perangainy. Ketika fulanah pergi kerja, kesempatan itu di gunakan ghulam mengundang teman-temannya untuk berpesta di rumahya. Bukan itu saja, yang membuat fulanah jengkel adalah kebiasaan ghulam yang sering menghisap lem, karena dengan cara itu akan membawa dirinya terbang ke alam khayalan semu.

Entah berapa banyak kaleng lem yang berserakan di dalam kamarnya, bukan berarti fulanah tidak menghiraukan hal tersebut tapi berapa kali dia sering di lawan oleh anaknya itu.

Kejengkelan fulanah telah disampaikan kepada salah satu ustadz yang kebetulan masih satu komplek dengannya, dia mengadu mengenai perihal si ghulam. Kemudian sang ustadz memberikan solusi bahwa ghulam harus diisolasi dari lingkungan dari lingkungan teman-temannya, ya salah satu jalan keluarnya adalah dengan memasukkannya ka ma’had (pesantren).

Singkat cerita, ghulam pun telah masuk ke ma’had. Pada awalnya ghulam belum bisa meninggalkan kebiasaan buruk tersebut, berapa kali dia mencuri kesempatan untuk “Ggelem” di luar pondok. Tapi, seperti apa yang di katakan pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, beberapa kali dia menghisap lem berapa kali itu juga teman-temannya memergoki dia, sampai akhirnya di pun berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

Dengan masuknya ghulm ke ma’had membuat sedikit lega hati fulanah, lega bukan karena dia bebas dari kenakalan anaknya itu melainkan dia merasa ada secercah harapan untuk masa depannya, terutama masa depan ghulam supaya kelak dia menjadi anak yang sholeh.

Waktu terus berjalan, Ghulam yang dulu bukanlah Ghulam yang sekarang, semenjak masuk ma’had telah banyak yang berubah pada diri Ghulam. Mulai dari shalat berjama’ah, tahfidz Qur’an, dan mengikuti ta’lim. Dari segi pakaian, sekarang Ghulam sering menggunakan celana ngatung yang berada di atas mata kaki mungkin agak tampak aneh bagi ibu dan teman-temannya dulu. Meski demikian, fulanah tetap masih ragu dengan anaknya, dia tahu betul akan sifat dan wataknya. Makanya si Ghulam tidak boleh pulang jika harus di temani dengan kawan-kawannya yang berada di ma’had. Wal hasil ketika dia pulang satu atau dua orang dari temannya pati di bawanya serta ke rumahnya.

Anak-anak ma’had pun kini sering bermain dan bersilaturahmi ke rumah fulanah. Maka terjalinlah keakraban yang begitu harmonis di antara mereka. Bagaikan satu keluarga saja, anak-anak ma’had mengaggap fulanah sebagai ibu mereka, begitupun sebaliknya.

Kedekatan tersebut mendatangkan banyak manfaat bagi kedua belah pihak terlebih lagi bagi fulanah. Dengan akrab nya anak-anak ma’had sedikit demi sedikit membuka wawasan fulanah tehadap islam, dia mulai belajar tentang hijab syar’I dan ingin segera melaksanakannya. Tapi dengan alasan tempat kerja yang tidak memungkinkan, ‘azamnya itu pun tidak kunjung terlaksanakan juga, fulanah menggunakan jilbab hanya pada waktu-waktu dan acara tertentu saja.

Fulanah perlahan-lahan mulai memahami mengenai perkembangan islam, saat ini dia mulai mengagumi sosok wanita yang bercadar yang tegar dan sabar di tinggal suaminya untuk berjihad, seperti berani di tinggal untuk berdakwah sehingga ”Eh aku juga ingin dong jadi istri seorang mujahid” celetuknya. Bercanda atau tidak, kata-katanya itu dapat di maklumi. Fulanah adalah manusia biasa yang tentunya membutuhkan pendamping bagi dirinya, sepertinya dia sudah bosan dengan kehampaan. Dia butuh seorang pembimbing bagi dirinya dan butuh sosok ayah baginya.

Bak gayung yang bersambut, keinginan fulanah mendapat respon dari salah satiu ikhwan yang kebetulan ketika fulanah mengatakan keinginannya tersebut, dia dan kedua rekannya sedang bertamu ke rumahnya. Mereka memang para pembimbing ghulam yang di percayai oleh fulanah untuk menjaga dan mendidik anak bujangnya.

Mereka pun silih berganti mengunjungi rumah fulanah, tapi yang lebih sering adalah ikhwan tadi. Hampir sepekan sekali dia datang ke rumah fulanah, untuk menjaga dan menghindari fitnah, si ikhwan membawa seorang teman atau si ghulam untuk menemaninya.

Memang sih kedatangan dia cukup beralasan yaitu mengambil uang jajan atau uang makan untuk bekal si ghulam selama di ma’had.

Fulanah sangat jeli betul memperhatikan tingkah laku si ikhwan, bahwa di balik semua itu ada tujuan yang tersembunyi.

Fulanah memang suka dengan perilaku si fulan yang ramah dan yang mudah senyum itu, tapi sepertinya dia masih mikir-mikir kalau dia benar-benar menjdi istri si ikhwan itu nanti. Pertama dia harus sanggup meninggalkan kerjaannya dan merubah penampilannya, kedua fulanah masih ragu apakah calon suaminya nanti bisa menafkahinya dan anaknya, karena mengingat posisi si ikhwan yang sudah mempunyai istri.

Hal ini masih menjadi teka-teki bagi fulanah, betulkah si ikhwan tadi serius menanggapi keinginannya dan berani untuk mengambil keputusan sebagai suami yang harus menghidupi dua keluarga?,tapi mengapa dia tidak menunjukan sikap keseriusannya tersebut, seperti yang dilakukan oleh setiap lelaki ketika hendak mempersunting seorang wanita. Malah sebaliknya, dengan melihat sikap si ikhwan membuat fulanah berprasangka lain terhadap dirinya.

Kisah nyata di atas, merupakan penggalan naskah dari perjalanan manusia di pentas kehidupan fana ini.

Semua kejadian yang ada di dunia ini telah tertulis dan tercatat di dalam papan yang terjaga lagi terahasiakan. Jalan hidup seseorang pertanda, apakah kebahagiaan yang tertulis ataukah sebaliknya.

Seperti keputusan fulanah untuk bercerai dengan suaminya, merupakan awal dari pintu hidayah yang ia terima. Sebab jika pernikahannya terus di pertahankan, berarti ia terus berada di dalam perzinaan selamanya di karenakan sang suami berbeda keyakinan dalam bertauhid.

Di tengah-tengah menjalani kehidupannya seorang diri, dia di hadapkan dengan tingkah anaknya yang berperangai buruk. Namun ternyata dengan keadaan anaknya tersebut menghantarkan ke pintu hidayah yang kedua, yaitu dengan masuknya Ghulam ke ma’had, berarti telah memperkenalkan dia kepada inti pegangan islam, yaitu memperkenalkan dia dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Hidayah tersebut semakin di perkuat dengan keinginannya menjadi seorang istri mujahid.

Namun yang menjadi di lemahnya sekarang adalah, siapakah mujahid yang benar-benar ingin mentarbiyah dirinya menjadi sosok mu’minah yang hakiki, seorang mujahid yang telah siap memenuhi keperluan lahir dan batinnya, bukan seorang lelaki yang hanya ingin memanfaatkan jiwa dan hartanya saja.

Sebaliknya, apakah engkau wahai fulanah siap di didik menjadi seorang mujahidah di mana  engkau harus berkorban dan menerima keadaan sebagai keluarga mujahid nanti. Di karenakan kebanyakan seorang mujahid, waktu dan pengorbanannya akan banyak dikeluarkan untuk kepentingan ummat. Setidaknya dia akan mengorbankan jiwa dan hartanya, dia akan meninggalkanmu tatkala engkau membutuhkan kasih sayangnya, siapkah engkau menjalani hidup seperti ini??

Berpikir ribuan bahkan jutaan kali untuk memilih suami yang menurutmu benar-benar seorang mujahid memang perlu dan harus di lakukan, yang jelas sekarang bilakah benar keinginanmu itu, bulatkan tekad luruskan niat untuk menggapai ridho ilahi. Tuk menjadi istri seorang mujahid. (Red-HASMI)

.:: Wallahu Ta’ala ‘Alam ::.

Iklan

Posted on 30 Oktober 2012, in Kisah Penuh Hikmah, Muslimah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: