Diposkan pada Al Islam, Nasihat

Ahlussunnah Dalam Memberi Nasehat

Agama adalah nasehat. Begitulah yang telah di tuturkan oleh qudwah kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini menunjukkan betapa tinggi dan agungnya sebuah nasehat dalam Islam. Bahkan nasehat merupakan salah satu wujud nyata dari hadits nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang artinya:

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nasehat adalah mencintai untuk sesama muslim apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, membimbingnya kepada kebaikan, menunjukinya kepada kebenaran apabila ia keliru, mengingatkannya bila lupa dan menjadikannya seorang saudara.

Nasehat adalah saling memberitahu sesama muslim secara rahasia antara yang dinasehati dengan yang menasehati. Dan nasehat bukanlah dengan mencari-cari kesalahannya, apabila ia keliru, ditutupi aibnya. Itulah nasehat yang akan mempererat tali ukhuwah dan memperkokoh bangunan iman. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lainnya adalah bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi apabila nasehat telah dicampur adukkan dengan celaan, hinaan dan olok-olok serta dijadikan sebagai topeng untuk mencapai tujuan yang tidak baik (balas dendam, hasad, mempermalukan dsb). Maka ini adalah perbuatan yang tercela yang wajib dijauhi oleh setiap muslim, karena akan menimbulkan bahaya dan kerusakan.

MENJAGA LISAN AGAR SELALU BERBICARA BAIK

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata dengan perkataan yang baik atau diam.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah menjelaskan bahwa, “Apabila seseorang ingin berbicara maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataanya tidak akan membawa mudharat maka silakan dia berbicara. Akan tetapi apabila diperkirakan apakah akan membawa mudharat atau tidak (ragu-ragu) maka hendaknya ia tak usah bicara. Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan telinga dari pada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga dan satu mulut adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya. Dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya seorang mukmin yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa akibatnya akan membuatnya terjerumus dalam api neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak  antara timur dan barat.” (HR.bukhari dan Muslim).

Al-Hasan berkata, “Berakhlak baik itu adalah bermuka cerah, ramah dan tidak menyakiti orang lain.

Adz-Dzahabi berkata, “Demikianlah adanya. Kita terkadang melihat seseorang tampak wara’ dalam menjaga makanan, pakaian dan pergaulanmya. Namun apabila berbicara, ada hal yang seharusnya tidak disertakan dalam ucapannya namun ia sertakan juga. Adalakanya ia berusaha tetap jujur, namun ia memperbagus ucapannya agar dipuji sebagai orang yang fasih…”

Ibnu As-Sammak berkata, “Binatang buasmu ada di antara kedua bibirmu (lisanmu). Dengan itu kamu bisa memakan (menfitnah) siapa saja yang lewat di depanmu…  sesungguhnya ada tiga hal  yang menghalangimu untuk tidak menggunjingi mereka;

1.      Mungkin engkau menyebut suatu perkara yang ada padamu. Bagaimana menurutmu apa yang akan diperbuat Rabb mu apabila engkau menggunjingi sahabatmu dalam urusan yang ada padamu?

2.      Mungkin engkau menyebutnya dengan perkara dimana engkau melakukan  kesalahan yang lebih darinya, dimana semua itu bisa membuat sahabatmu jengkel dan marah kepadamu.

3.      Mungkin engkau menyebutnya dalam urusan dimana Allah telah memaafkanmu dalam urusan ini. Apakah ini balasan bagi Allah yang telah memaafkanmu?… Sayangilah saudaramu dan pujilah yang telah memaafkanmu.”

HUKUM BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan prasangka, karena sebagian tindakan prasangka ada yang merupakan dosa. Dalam ayat ini juga ada larangan untuk berbuat tajassus (memata-matai). Tajassus adalah mencari kesalahan atau kejelekan orang lain yang biasanya adalah efek dari prasangka buruk.

Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata, “Apabila ada tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mencarikan alasan untuknya. Maka katakanlah kepada dirimu sendiri; saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukkan perbuatan tersebut”.

Sofyan bin Husein berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan orang di depan Iyas bin Muawiyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata,’ apakah kamu pernah memerangi bangsa Romawi, Hind (India), atau Turki?’ Jawabku, ‘tidak’. Beliau berkata,’ Apakah layak bangsa Romawi,Hind dan Turki lebih selamat dari kejelekanmu?! Sedang saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu.”

Abu Hatim al-Hiban berkata dalam kitab Raudhal al-Uqala, “Sementara orang yang sibuk mencari kejelekan orang lain dan melupakan kejelekan dirinya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya… Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana berprasangka baik merupakan cabang keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak membuatnya sedih atau berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprangka buruk kepada saudaranya. Dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”

AKHLAK RASULULLAH

Akhlak adalah suatu gerakan yang berasal dari jiwa seseorang, yang menjadi sumber perbuatannya yang bersifat alternative -baik atau buruk; bagus atau jelek- sesuai dengan tingkat pendidikan yang sampai kepadanya atau tingkat pemahaman agamanya. Apabila jiwa ini dididik untuk mencintai kebajikan dan membenci kejelekan, maka akan lahir darinya perbuatan-perbuatan yang baik serta akan mudah baginya apa yang disebut dengan akhlak yang baik. Seperti malu, murah hati, lemah lembut, sabar, bertanggung jawab, dermawan, berani, adil, dan lain-lain.

Sebaliknya apabila jiwa itu ditelantarkan dan tidak dididik sebagaimana mestinya maka akan muncul darinya perbuatan dan perkataan yang hina, kotor dan cacat, yang akan melahirkan perbuatan khianat, suka mencaci maki, berdusta, dan lain lain.

Oleh karena itu Islam sangat menekankan akhlak yang baik dan senantiasa menyeru kaum muslimin untuk membinanya dan mengaplikasikan dalam kehidupan mereka. Dan tak ada seorang pun yang keagungan akhlaknya melebihi keagungan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga dalam banyak tempat Allah Ta’ala sering memuji tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Seorang shahabat pernah bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anah tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dijawab oleh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha kalau akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.

Sesungguhnya Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sebagai seorang yang agung. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Sungguh kamu memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Allah juga menjelaskan bahwa beliau juga adalah orang yang ramah dan lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali-Imran: 159).

Allah Ta’ala juga menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang penyayang dan memiliki belas kasih terhadap orang yang beriman. Firman Allah Ta’ala yang artinya:

Sesungguhnya telah datang seorang rasul dari kaummu sendiri. Yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat),  amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Inilah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adalah sangat aneh apabila kita yang mengaku pengikut Allah dan Rasul menurut pemahaman salaf tapi memiliki hati kasar, lidah yang kotor dan tidak bisa membedakan mana perkataan yang baik dan mana perkataan yang jelek. Dan adalah lebih aneh lagi apabila kita tidak tahu mana perkataan yang akan menyakiti seseorang mana yang tidak.

ETIKA DALAM MEMBERI NASEHAT

Berkaitan dengan cara menasehati orang yang melakukan kesalahan, perlu diperhatikan beberapa perkara:

·  Hendaknya nasehat tersebut dilakukan dengan penuh keramahan dan lemah lembut disertai keinginan yang kuat untuk menyelamatkan orang yang salah tersebut dari kesalahannya apabila kesalahannya tersebut memang terbukti.

·  Apabila berita yang didengar tentang saudaranya masih samar, maka hendaknya dia mengemukakan prasangka baik sebagaimana yang diucapkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata: “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaklah engkau selalu membawa perkataan saudaramu tersebut kepada persangkaan yang baik.”

·  Apabila seseorang telah menasehati saudaranya, maka berarti ia telah menunaikan kewajiban dirinya. Maka hendaknya ia tidak mengikuti gerak-gerik orang yang dinasehati serta tidak menceritakannya, apalagi menjelek-jelekannya di depan orang lain. Sebaliknya, selayaknya dia menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

·  Apabila dikatakan kepada seseorang tentang kesalahan yang dilakukannya, maka ini adalah perkara yang baik. Berkata sebagian Salaf pada saudaranya: “Janganlah kamu menasehatiku hingga kamu mengatakan apa yang tidak aku suka dihadapanku”. Apabila seseorang memberitahukan kepada saudaranya tentang kesalahan yang ia lakukan maka itu adalah suatu kebaikan. Dan bagi orang yang memiliki kesalahan (aib) hendaklah ia diberi kesempatan untuk memberi alasan jika ia mempunyai alasan. Sebaliknya jika si pemberi nasehat memberitahukan (aib) dengan cara menjelek-jelekkan orang tersebut maka ia adalah orang yang jelek dan tercela.

·  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang menjelek-jelekkan dan mencela orang yang melakukan dosa tapi telah bertaubat. Seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mencela wanita yang berzina akan tetapi telah taubat dengan menjalani hukuman. Berkata Al-Fudhail: “Seorang mukmin menutupi aib dan menasehati, sedangkan seorang yang keji membukanya dan menjelek-jelekkan.” Yang disebutkan oleh Al-Fudhail adalah salah satu tanda-tanda menasehati adalah diiringi dengan menutupi aib/kesalahan orang yang dinasehati. Sedangkan mencela atau menjelek-jelekkan diiringi dengan membeberkannya di depan orang lain. Dan adalah Salaf sangat membenci amar ma’ruf nahi mungkar ala khawarij ini. Dimana orang-orang khawarij sangat menjaga ibadah mereka, akan tetapi mereka sangat suka mencaci maki dan membunuh orang muslim. Sesungguhnya seorang mukmin menyukai dengan cara rahasia antara yang menasehati dengan yang dinasehati. Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda ketulusan, karena orang yang menasehati tidak ada keinginan untuk membeberkan aib orang yang dinasehati, akan tetapi niatnya hanyalah untuk menghilangkan mafsadah (kerusakan) yang timbul akibat maksiat yang dilakukan orang tersebut.

·  Adapun orang membeberkan dan menyebarkan aib, maka ini termasuk yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, karena kecintaannya untuk menyakiti saudaranya sesama mukmin dan menimpakan marabahaya kepadanya. Ini adalah sifat Iblis laknatullah yang dihiasi dengan kekufuran, kefasikan dan maksiat agar anak cucu Adam menjadi penghuni neraka. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat  keji tersebut tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 9)

SIKAP ULAMA SALAF TERHADAP KESALAHAN SAUDARANYA

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Setiap aku mendengarkan kabar yang tidak mengenakkan dari saudaraku sesama muslim, pasti aku sikapi dengan salah satu dari tiga hal; apabila derajatnya lebih tinggi dariku, kukenali kedudukannya; Apabila ia sejajar denganku, aku berbuat baik kepadanya; seandainya ia lebih rendah dariku, aku tidak akan menyusahkannya. Barangsiapa yang tidak menyukai sikap seperti itu, ingat bumi Allah sangat luas.”

Raja bin Haiwah berkata: “Barangsiapa bersahabat dengan orang yang menurutnya tidak tercela, akan sedikit shahabat yang dimilikinya. Barangsiapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari shahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Barangsiapa yang mencela shahabat atas setiap dosa yang dilakukannya, maka ia akan banyak musuh.”

Imam Syafi’i berkata: “Wahai Yunus, apabila engkau mendengarkan kabar yang tidak mengenakkan dari seorang teman. Janganlah lantas terburu memusuhinya dan memutus tali hubungan kasih. Karena dengan demikian engkau termasuk orang yang menghilangkan keyakinan dengan keraguan. Tetapi yang benar temuilah dia dan katakan padanya; aku mendengar engkau berkata begini dan begini, jangan sebutkan secara mendetail. Apabila ia mengelak, katakan padanya ‘engkau lebih benar dan lebih baik dari yang kudengar’ dan jangan perpanjang urusannya. Tapi kalau ia mengakuinya dan kamu melihat ada yang bisa dijadikan alasan baginya dalam masalah itu, terimalah alasannya. Namun apabila engkau tidak mendapatkan alasan apapun baginya, sementara amat sulit jalan untuk mendapatkannya, engkau bisa tetapkan ia melakukan kesalahan. Setelah itu jika engkau mau, engkau bisa membalas dengan yang setara dengan perbuatannya tanpa menambah-nambah. Dan kalau engkau mau, engkau bisa memaafkannya. Dan memaafkannya lebih dekat menuju ketakwaan dan lebih menunjukkan kemuliaanmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)”

Referensi:
1.
Ibnu Rajab Al-Hanbali, Nasehat Bukan Celaan.
2.Abdul Muhsin Abbad, Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr.
3. Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil, Panduan Akhlak Salaf.
4. Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s