Prihatin kondisi bangsa, Aliansi Lintas Agama malah lakukan kesyirikan (doa bersama)

JAKARTA (Arrahmah.com) – Astaghfirullah! Ini potret kondisi bangsa yang jahil (bodoh) karena tidak mau tunduk dan ta’at mengikuti ajaran Allah SWT., dan RasulNya. Beralasan prihatin dengan kondisi bangsa, sekitar 200 orang dari Aliansi Lintas Agama malah melakukan dosa besar syirik, dengan do’a bersama, di kawasan monas selama 3 hari berturut-turut (14 s/d 16 September/2011) agar Indonesia bersih dari malapetaka.

Do’a bersama, merusak Islam

Sungguh keterlaluan bangsa ini dalam melawan Allah SWT., dan RasulNya. Bukannya tunduk dan ta’at kepada ajaran Allah SWT., dan RasulNya, agar negeri ini mendapat berkah dan kesejahteraan, malah melakukan kesyirikan yang merupakan dosa besar dan mengundang adzab lebih keras dari Allah SWT.

Sekitar 200 orang dari Aliansi Lintas Agama, dengan alasan prihatin dengan kondisi bangsa, melakukan do’a bersama, di kawasan monas selama 3 hari berturut-turut (14 s/d 16 September/2011) agar Indonesia bersih dari malapetaka.

Acara syirik (do’a bersama) ini digelar di seberang Gedung Kemenko Kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, sejak pukul 08.00 WIB, dengan berdo’a, menyanyikan lagu-lagu pujian, berzikir, dan membakar dupa

“Kita tergerak untuk melakukan aksi ini karena banyaknya konflik horizontal, korupsi yang merajalela dan angka kemiskinan yang tinggi sehingga itu mengundang keprihatinan kita,” papar panitia pelaksana, Kasino.

Ironis, aksi kemusyrikan ini ternyata dihadiri oleh tokoh-tokoh yang dianggap ulama Islam, seperti Salahuddin Wahid, dan juga Syafii Ma’arif, serta eks Menko Perekonomian era Gus Dur, Rizal Ramli dan Pendeta Andreas Yewangoe. Tentu saja, acara syirik ini sia-sia dan tidak akan diridhoi Allah SWT., bahkan berpotensi besar merusak Islam.

Siapapun yang memprakarsai acara syirik massal ini, yakni melakukan do’a bersama antara Muslim dan kafir, berarti telah membuat syariat baru, melanggar syariat yang sudah ada, dan sudah pasti pula tindakan tersebut merusak Islam. Agama adalah keyakinan dan ibadah. Sedang do’a adalah ibadah, yang dalam Islam sama sekali tidak boleh dilakukan secara bersama antar agama. Itu jelas merusak agama.

Melakukan do’a bersama antar agama adalah sebuah perbuatan syirik, padahal syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Jadi, bagaimana mungkin harapan para peserta do’a bersama ini–agar negeri ini menjadi aman, adil, makmur, dan sejahtera–akan tercapai? Benar sabda Rasulullah SAW., yang mengabarkan bahwa ummat Islam kelak akan kebablasan hingga mengekor kaum musyrikin, hingga berhalapun disembah.

“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Tidak ada do’a bersama dalam Islam, kecuali untuk mubahalah

Melakukan do’a bersama antar umat beragama, untuk sebuah harapan bersama (misalnya untuk kemakmuran sebuah negeri) tidaklah pernah ada dalam Islam. Dalam Islam, do’a bersama antara orang Mu’min di satu fihak dan orang kafir (Ahli Kitab maupun Musyrikin) di lain fihak justru merupakan do’a ancaman, saling melaknat untuk adu kebenaran, yang disebut dengan mubahalah.

Mubahalah ialah masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbedapendapat, berdoa kepada Allah dengan bersungguh-sungguh agar Allah menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW. (Al-Quran dan Tafsirnya, Depag RI, juz 1 hal 628).

Jadi, tidak pernah ada dan tidak pernah dibenarkan dalam Islam, do’a bersama sebagaimana yang dilakukan oleh Aliansi Lintas Agama di Monas sejak tanggal 14 s/d 16 September 2011 di Monas.

Ironis! Akan jadi apa kedepannya bangsa ini jika ummatnya dan para tokohnya malah menggelar acara kesyirikan berupa do’a bersama dalam rangka mendapatkan kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan hidup berbangsa dan bernegara. Bukankah Islam telah memberikan tuntunan dalam penyelenggaraan segala aspek kehidupan, termasuk untuk mencapai kehidupan yang adil, anti korupsi, sehingga makmur sejahtera seluruh ummatnya?

Wallahu’alam bis showab!

(M Fachry/arrahmah.com)

Iklan

Posted on 16 September 2011, in Aqidah, Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: