Kepuasan Dalam Kesederhanaan

Rasa puas itu adalah relatif  bagi setiap orang, ada yang sudah puas dalam satu sudut dan ada yang masih mencari kepuasan di sini lain. Kerana tiada satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kadar kepuasan dalam setiap diri manusia.

Ketidakpuasan sesungguhnya akan memacu motivasi seseorang untuk berjuang, dan meningkatkan taraf hidup dan prestasi dirinya. Tetapi bukan bererti ketidakpuasan itu sendiri harus membelenggu hidup seseorang. Selama seseorang itu tidak merasa puas dengan keadaannya, maka dia akan berusaha untuk memenuhi hasrat keinginannya. Sesungguhnya keinginan itu tidak akan habis untuk dituruti dan sangat sukar mengukur nilai kepuasannya.

“Merasa puas, mudah disokong, sederhana hidupnya” akan mengajar seseorang itu untuk tidak mengejar kebendaan. Ketika seseorang telah dapat menerima apa yang telah diusahakannya dan apa yang telah diraihnya, sesungguhnya inilah kepuasan kepada dirinya. Tidak perlu  menyusahkan orang lain.

Dengan memiliki harta dan kehidupan, kita harus dapat mensyukurinya. Merasa puas dengan hasil keringat kita sendiri, dengan tidak kedekut serta dapat memberi kepada orang lain. Inilah yang disebut dengan kesederhanaan. Memiliki bukan untuk sendiri tetapi memiliki untuk dibahagikan dengan orang lain.

Dengan demikian, seseorang yang sedang mengejar prestasi, harus berkerja keras tanpa harus terbelenggu di dalamnya. Hidup ibarat air yang mengalir, yang dapat mengaliri sawah dan ladang disekitarnya, dari dataran tinggi yang akhirnya mengalir ke samudera luas, teruap menjadi awan dan akan turun sebagai hujan, untuk kembali  memberi kehidupan kepada semuanya.

Memang sulit mengukur kepuasan seseorang, tetapi kita memerlukan rasa ketidakpuasan yang positif untuk mendorong kita agar dapat bekerja lebih maksimum lagi. Ia seperti rakit yang kita perlukan untuk menyeberangi sungai atau lautan.

Apabila kita berjaya mencapai tujuan, sudah pasti kita tidak memerlukannya lagi. Tidak perlu membawa rakit itu sepanjang perjalanan kita di daratan kerana ia hanya akan membawa penderitaan dan beban yang berpanjangan. Apabila kita melekat pada ‘rakit’ , maka kita pasti tidak akan menemui kebahagiaan yang sejati.

Ertinya apabila kita telah sampai pada tahap tertentu,  merasa puaslah. Terimalah apa yang menjadi milikmu dengan hati yang lapang dan sedarilah itu semua hanya sementara, dengan demikian kita akan bahagia dalam menjalani hidup ini.

Bersederhana dalam berfikir, sederhana dalam bertindak, sederhana dalam bertutur kata, sederhana dalam kehidupan adalah satu sifat yang baik iaitu Qanaah, –  bersyukur terhadap rezeki yang ditentukan oleh Allah.

___________________________

Source: http://www.akuislam.com

Iklan

Posted on 16 September 2011, in Al Islam, Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: