Kebodohan adalah Kekuatan : Dunia Orwellian Pasca 11 September

“Sampai di mana batas kebodohan kita, sampai di situlah wilayah kekuatan imperium. Untuk melawan kekuatan imperium sama artinya kita harus melawan kebodohan kita sendiri.”

————————————————————–

Novel fiksi-politik “1984” karya George Orwell (terbit tahun 1949) mengisahkan secara dramatis dunia masa depan yang mengerikan. Dunia itu dihuni manusia yang menjadi budak salah satu dari tiga negara adidaya, masing-masing dipimpin secara otoriter oleh sebuah partai tunggal, yang berperang satu sama lain. Setiap negara memiliki sistem tersendiri untuk membodohi rakyatnya lewat media yang dimanipulasi. Pikiran dikendalikan, perilaku diawasi semata-mata demi membenarkan tindakan tirannya yang hanya mementingkan kekuasaan dibanding rakyatnya. Inilah dunia Orwellian (mengambil nama sang pengarang).

NIC (National Intelligence Council) pada tahun 2004 mencatumkan dunia Orwellian sebagai salah satu skenario masa depan di samping tiga skenario lain : Kebangkitan China-India, Pax Americana (Amerika berlanjut menjadi penguasa dunia) dan Khilafah Islam. Namun seolah-olah kita sudah mendapat gambaran yang mendekati kepastian bahwasanya dunia Orwellian itu tidak lain adalah Pax Americana sendiri. Amerika Serikat adalah imperium yang mengklaim membawa demokrasi namun mendukung rezim-rezim diktator. Ia lalu membodohi rakyat dunia lewat sistem global yang seolah ramah : Bank Dunia, PBB, WHO, IMF, UNICEF. Pembodohan selanjutnya dilakukan lewat media massa untuk membenarkan kepongahannya.

Noam Chomsky dalam bukunya,”Maling Teriak Maling : Amerika Sang Teroris” (terjemahan) memperkenalkan sebuah istilah untuk memudahkan kita menamai sistem pembodohan itu, “newspeak”. Newspeak adalah sistem penjungkirbalikan istilah. Setiap istilah dapat dikosongkan makna aslinya untuk diberi makna baru, selanjutnya ia dipropagandakan lewat media massa, buku, serangkaian seminar, konferesi dan karya ilmiah. Ketika istilah tersebut sampai di telinga atau mata kita, pikiran kita akan secara otomatis memaknainya dengan makna baru, karena ketika kita bersikukuh dengan makna lama (asli), tiba-tiba saja pikiran kita akan merasa aneh, janggal, terasing dan kriminal.

Sebagai contoh, bayangkan kata “terorisme” dalam pikiran Anda, lalu apa yang terbayang? Mengapa muslim, mengapa Imam Samudera, Osama, Al-Qaeda? Tidakkah Anda berpikir tentang Khmer Merah? Atau militer yang mengkudeta presiden Chili terpilih (demokratis) Savador Allende pada 11 September 1973? Masukkan nama “Abu Bakar Ba’asyir” dalam pikiran Anda. Apa yang terpikir? File apa yang muncul? Ya, dialah sang pemimpin Jamaah Islamiyah, pimpinan cabang Al-Qaeda Indonesia yang mengomando aksi-aksi pengeboman dari balik jeruji. Entri-lah kata “Syariat Islam” atau “Khilafah”, lalu muncullah dunia Wahabian yang kolot, kejam, pengekangan perempuan dan seterusnya. Newspeak juga berlaku untuk istilah-istilah lain seperti militan, kebebasan, mutual-respect, radikalisme dsb. Mengapa kita tidak berpikir makna yang lain? Barangkali saja kita berpikir makna yang lain, namun segera kita merasa terasing, aneh, dan membangkang.

Seperti itulah Amerika mengendalikan pikiran rakyat dunia agar satu arus dengan ideologinya. Chomsky menyebutnya “the American Ideological System”. Pikiran adalah hal pertama yang mesti dikendalikan oleh Amerika untuk menyukseskan perang melawan musuh baru. Itulah sebabnya konon pasca serangan 11 September 2001, pagi-pagi George W. Bush menyerukan untuk melarang peredaran buku Kitab Tauhid karangan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, serupa dengan mantan wakil presiden Indonesia di periode yang lalu yang menyerukan melarang semua buku karya Sayid Quthb. Buku adalah pembentuk pikiran yang juga mesti dikendalikan (oleh Amerika). Selanjutnya pikiran dikendalikan lewat media elektronik, dari CNN hingga TVOne, perhatikan bagaimana istilah-istilah di atas masuk ke dalam pikiran kita dengan makna baru, membentuk pikiran kita agar sesuai dengan ideologi mereka.

Ketika pikiran manusia dicekoki istilah-istilah lama dengan makna baru lalu terbodohi dengannya, barangkali inilah yang dinamakan jahiliyah (kebodohan) yang serupa dengan jahiliyahnya Mekkah pra-Islam. Jahiliyah bukan tidak bisa calistung, melainkan bodoh dari makna yang hakiki. Maka Muhammad SAW, segera setelah dilantik menjadi Nabi, berupaya meredefinisi istilah-istilah, dimulai dari pengertian istilah “Tuhan” (rabb, ilah). (Atas dasar ini juga Syed Naquib al-Attas, intelektual Malaysia kelahiran Indonesia, membangun “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Ia melakukan pemaknaan kembali (Islamisasi) terhadap istilah-istilah yang sudah di-Barat-kan. Dimulai dari istilah “ilmu”).

Kebodohan rakyat dunia seperti ini menjadi penopang utama imperium Amerika. Kebodohan ini memberikan kekuatan pada Amerika untuk mengobarkan perang Afghan dan Irak, karena rakyat dunia secara “terpaksa tidak sadar” membenarkan rasionalisasi tindakan itu. kebodohan ini memberi kekuatan pada Amerika mengintervensi madrasah untuk menghapus materi jihad dari kurikulum, karena rakyat dunia mengamini kata jihad yang dalam kamus Newspeak (Newspeak Dictionary) berarti terorisme. Kebodohan rakyat dunia membuat hadirin memberi applause pada pidato Obama di Kairo yang berbusa tentang “muttual respect” antara Barat dan Islam, pada saat yang sama anak buahnya sedang menjatuhkan bom di Pakistan!

Hampir tiga dekade lalu, novel Orwell itu seolah menyodorkan satire untuk perilaku Amerika itu ketika menyebutkan slogan Partai Ing-Soc di negara Oceania yang Orwellian itu : “KEBODOHAN ADALAH KEKUATAN” (IGNORANCE IS STRENGTH).

Ya, kebodohan kita adalah kekuatan imperium. Sampai di mana batas kebodohan kita, sampai di situlah wilayah kekuatan imperium. Untuk melawan kekuatan imperium sama artinya kita harus melawan kebodohan kita sendiri. Kebodohan akan agama kita, kebodohan akan makar musuh Islam. “1984” menampilkan tokoh resistensi bernama “Emmanuel  Goldstein” yang melawan arus newspeak dengan akal sehatnya, walaupun ia mesti dinihilkan oleh rezim Ing-Soc lalu menjadi korban “newspeak” pula : kriminal yang harus dibenci, dicaci dan dicerca. Persis begitu orang-orang terasing (ghuraba) masa kini, untuk melawan kebodohan (jahiliyah) mestilah menjadi korban newspeak : distigma sebagai radikalis-fundamentalis, musuh seluruh dunia. Rasulullah SAW bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Awal kedatangan Islam sebagai sesuatu yang asing dan ia akan kembali (menjadi) asing sebagaimana awalnya, maka kebahagiaan bagi orang-orang yang asing” (HR Muslim)

Islam menjadi terasing ketika melawan arus ideologi newspeak. Akan tetapi justru itulah tugas kita. Di masa ketika dunia dikendalikan oleh kekuatan imperium hingga ke pikiran, langkah pertama untuk melawan adalah dalam pikiran itu sendiri, revolusi pemikiran. Dari pikiran kita melawan kebodohan, ke alam nyata kita melawan kekuatan.[]

Penulis :

Reza Ageung S.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah
Balikpapan
Iklan

Posted on 11 September 2011, in Opini and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: