Diposkan pada Cerpen, Goresan Tangan

[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part2

Ups, baca bagian satu dulu yaa.. ^^

           Keesokan harinya Nadia masih tidak masuk sekolah. Hanya diam di kamarnya. Sesekali memandang keluar jendela, menatap kosong langit Jakarta. Pikirannya hanya tertuju pada kehancuran nasib yang ia bayangkan. Belum pernah Nadia begitu. Kehilangan semangat hidup. Seakan-akan tak ada lagi yang bisa ia lakukan menghadapi kenyataan pahit buta warnanya.

            Nadia Aulena, gadis yang dikenal sempurna, ternyata tidak begitu. Dia hanya bisa menangis putus asa. Tidak tahu lagi caranya kembali bersemangat. Nadia benar-benar merasa sudah hancur. Bila ada kapur tua, maka dirinya lebih rapuh dari itu.

            Sudah seminggu tes buta warna itu berlalu. Nadia masih merana ria. Waktunya ia habiskan dengan bermuram durja, menyesali kelemahan fisiknya, dalam hati dia bertaruh tak ada yang sesedih dan sesial dirinya. Setiap hari Nadia mengurung diri di kamar. Tak satu orang pun yang diizinkan masuk, termasuk ayah dan kakaknya. Hanya pembantunya yang dibolehkan membuka pintu untuk mengantarkan makanan sesekali. Itupun tidak dimakannya.

***

            Setelah dirasa bosan, akhirnya Nadia berniat cari “pemantik”. Hari itu Nadia memutuskan untuk keluar rumah, mencari udara segar.  Dia menolak dengan kasar tawaran supirnya untuk menemaninya. Nadia pun tidak berkendara.

            Dengan gontai Nadia melangkahkan kakinya. Tidak seperti biasanya, penampilan Nadia lusuh dan kotor. Sekadar berjilbab dan berkaus kaki, tidak rapih seperti sejatinya Nadia. Sama sekali tidak tampak darah konglomeratnya. Nadia terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Tiba-tiba dilihatnya seorang bapak tua dan renta, memakai kacamata hitam, dan menggunakan tongkat berdiri sendirian di tepi jalan raya. Sepertinya si bapak ingin menyebrang. Nadia menghampirinya.  Seraya menyapa, “Assalaamu’alaykum.”

Bapak itu diam saja. Tebakan Nadia sepertinya benar. Si bapak buta. Nadia mengulang, “Assalaamu’alaykum, Pak.”

Si bapak kaget, lalu menjawab, ”Wa’alaykumussalaam warohmatullah,”

“Mau menyebrang, Pak?”

“Tidak, Nak. Bapak mau naik angkot,”

“Mau kemana,Pak?”

“Mau ke Perumnas, Nak,”

“Perumnas?” kening Nadia berkerut, mengingat-ingat, “Saya tahu, Pak. Perumnasnya di mana,Pak?”

“Di Blok B, Nak. Sebelah Salon Erni,”

“Mau saya antar, Pak?”

“Tidak apa, Nak?”

“Ya,tidak apa-apa, Pak. Kebetulan saya sedang butuh jalan-jalan,”

“Alhamdulillah. Terima kasih, Nak,”

“Iya, Pak. Sama-sama,”

Nadia memberhentikan taksi pertama yang lewat. Lalu si bapak ia tuntun masuk ke dalam taksi. “Perumnas, Pak. Blok B.” Taksi pun meluncur. Di dalam taksi Nadia memperhatikan bapak tua dan renta itu. Bajunya lusuh dan kotor, bagian lutut kirinya juga sudah bolong. Di pangkuannya ada tas tua yang sudah banyak jahitannya.  Nadia memulai percakapan.

“Di Perumnas mau ke tempat siapa, Pak?”

“Ke tempat adik, Nak,”

“Oh,” Nadia memandang ke luar jendela.

“Kalau boleh tahu namanya siapa, Nak?”

Nadia menoleh, “Nadia,Pak,”

“Wah, kalau saya bisa melihat, saya yakin Nak Nadia sangat cantik.”

“Terima kasih, Pak,” sahutnya sambil tersenyum, senyum pertama Nadia setelah hari tes itu. “ Bapak berasal dari mana?”

“Dari Bandung, Nak.”

“Subhanallaah, dari Bandung bisa sampai ke Jakarta?” Nadia terbelalak.

“Ya, alhamdulillaah, Nak. Bapak berjuang keras untuk sampai ke sini.”

“Tapi,kan…”

“Iya, Nak. Bapak buta,” Potong si bapak, beliau tersenyum ramah.

“…”

“…”

“Hm, maaf kalau saya lancang, Pak.”

“Iya, Nak?”

Nadia memberanikan diri bertanya. “Kalau boleh tahu, bapak tidak bisa melihat sudah berapa lama?”

“Hm, kira-kira sudah empat puluh tahun, Nak. Kecelakaan waktu masih SMP.”

“Maasya Allah, terus,, bagaimana bapak bisa…”

“Bisa hidup sampai sekarang maksudnya, Nak?” Si bapak tersenyum lagi, “Bapak justru harus bersyukur, Nak Nadia. Bapak masih diberi hidup oleh Allah. Hal itu sudah cukup membuat bapak bahagia. Tidak semua orang bisa berumur panjang.  Bapak memang tidak bisa terima dulu, bahwa bapak buta. Karena bapak adalah pemain bulu tangkis kecamatan. Bapak berhenti sekolah.”

Nadia tertegun.

“Tapi, Nak,” lanjutnya. “Kekurangan kita bukan menjadi halangan untuk menikmati hidup. Yang terpenting di dalam hidup ini, bukan bagaimana kita ingin segala sesuatu sempurna seperti yang kita mau.”

Nadia menyimak.

“Tapi… Bagaimana kita bisa bahagia. Bahagia dan bersyukur atas apapun yang kita dapatkan. Lagi pula, asal kita masih bersama Allah, apapun terasa nikmat, kok, Nak.” Bapak tersebut menutup ceritanya, tersenyum lagi.

Serta-merta Nadia mengigit bibirnya, menahan tangis.  Sejurus kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Nadia mengantarkan bapak tersebut sampai ke depan pintu. Lalu buru-buru pamit pulang. Si bapak yang belum sempat berterima kasih berdoa, “ Ya, Allah. Berikanlah keikhlasan di hati anak itu. Aamiin.”

Di perjalanan pulang, Nadia menangis, memohon ampun pada Allah. Selama ini dia terlalu angkuh. Terlalu perfectionist, tidak menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Dalam hati Nadia berjanji untuk tidak bersedih lagi, belajar ikhlas, kembali bersemangat, dan tentunya meminta maaf kepada teman-temannya.

Esoknya Nadia kembali bersekolah seperti biasa. Mengikuti pelajaran, ke perpustakaan, dan lain-lain. Hidupnya tidak banyak berubah, Nadia masih punya banyak teman seperti dulu. Nadia kembali bersemangat dan berprestasi seperti dulu.

Beberapa hari kemudian, rumah Nadia menerima kiriman surat dari Rumah Sakit Umum tempat dia tes dulu. Surat tersebut berisi ralat, dan permintaan maaf. Bahwa hasil tes Nadia salah, tertukar dengan siswa  sekolah lain, Nadia  Aulia.

Buru-buru Nadia berlari ke kamarnya, melihat kembali nama yang tertera di sana

Nadia menepuk jidatnya.

Waduh. Kenapa aku lupa mengecek namaku? Batinnya.

Hari itu diakhiri dengan senyum sebuah syukur.

____________________________

Source: http://adekfi.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s