Diposkan pada Cerpen, Goresan Tangan

[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part1

           “Selamat,ya.”, ujar ibu Ika, wali kelas Nadia. Pagi itu adalah pembagian rapor, Nadia kembali mendapatkan juara umum di sekolahnya. Dengan senyum mengembang indah di bibirnya, Nadia mencium tangan bu Ika, sambil mengucapkan terima kasih.

            “Selamat, ya, Nak,” ujar pak Sudir, kepala sekolah Nadia. Hari itu Nadia menerima penghargaan sebagai siswa teladan se-Jakarta.

            “Selamat, ya, Nad,” kak Geri, kakak kelasnya, mengabarkan bahwa Nadia berhasil memenangkan juara 5 Olimpiade Biologi tingkat Nasional.

            “Yeeeey….!” Nadia dan teman-temannya bersorak riang. Mereka baru saja memenangkan ISDC Nasional.

            Begitulah hari-hari Nadia Aulena. Dara cantik dan manis, idola banyak orang. Cerdas dan kaya. Nadia memang terlahir di keluarga berada. Walaupun ibunya telah berpulang sejak ia kecil, Nadia masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Kakaknya Andi, juga sangat baik pada Nadia.

            Banyak orang bilang, Nadia adalah gadis yang sempurna. Semua yang dinginkan perempuan terpancar indah dari balik jilbabnya. Cantik, manis, putih, cerdas, rajin, ramah, santun, anggun, dan murah senyumnya. Begitupun kehidupannya, yang serba lengkap dan mewah. Kemana-mana Nadia diantar dengan mobil mewah oleh supir pribadinya. Dia tinggal di rumah bertingkat di kawasan elit. Dan yang jelas, banyak anak laki-laki yang mengaguminya, menilai Nadia sebagai wanita idaman. Sungguh bahagia hidup seorang Nadia!

***

            “Jadi bagaimana, Nak?” tanya pak Harfan, ayah Nadia.

            “Kedokteran saja, yah. Nadia ingin jadi dokter,” Tutur Nadia.

            “Baik, Nak. Persiapkanlah dirimu dengan baik, ya,” Sahut ayahnya. Satu lagi kebahagiaan Nadia, apa maunya selalu dituruti oleh sang ayah. Menjadi seorang dokter memang cita-cita Nadia dari kecil.

***

            Sekolah telah menerima formulir pendaftaran masuk Fakultas Kedokteran dari beberapa universitas. Kepada siswa yang ingin melamar, dipersilahkan untuk meminjam  formulir pendaftaran dengan pak Agus, di ruang Tata Usaha. Paling lambat 10 Juli 2011.

            Sebuah pengumuman yang membuat api semangat Nadia menyala-nyala. Dengan yakin dia memfotokopi formulir ujian masuk fakultas kedokteran di universitas ternama di Jakarta. Nadia cukup mengikuti tes tertulis, dan lulus tes kesehatan.

            Mengikuti tes tertulis bukanlah hal yang sulit bagi seorang Nadia. Dia berhasil lulus tes tertulisnya dengan mulus dan memuaskan. Sekarang tinggal tes kesehatan, hufh, gumamnya. Dia tampak agak gugup.

            Di sinilah letak keraguan Nadia. Dia takut dia tidak lulus tes kesehatan. Satu dari sedikit kekurangan Nadia, gadis ini sering sakit. Padahal seorang pejuang berpedang obat harus punya kondisi fisik yang fit dan tidak gampang sakit. Tapi itulah kenyataannya, Nadia tetap tidak sempurna seperti anggapan orang.

***

            “Hm, bagaimana, ya. Aku juga bingung, Nad,” ujar Cita, teman dekat Nadia.

            “Aku tidak  berani ikut tes kesehatannya, Cit. Aku takut,” sambung Nadia, ”Aku takut tidak lulus.”

            “Hm, tapi kamu kan tidak punya penyakit menahun, toh? ” senyum hangat Cita sedikit memudarkan rasa takut Nadia, “Jangan khawatir. Insya Allah bisa. Oke?”

            Ya, itulah yang paling Nadia takutkan, dia khawatir dirinya tidak lulus tes fisik. Nadia punya kakak perempuan yang sakit-sakitan, meninggal lima tahun lalu karena tubuhnya terlalu lemah. Meskipun kondisi Nadia tidak separah kakaknya, tetap saja ia khawatir.

***

            Degdeg…degdeg…

Jantung Nadia berdegup kencang sembari menunggu giliran tes kesehatan. Ruang tunggu itu panas dan ramai, tapi yang Nadia rasakan hanya ketakutan dan kesendirian. Tak lama namanya dipanggil, ”Nona Nadia Aulena, silahkan masuk.”

            Bak robot Iron Man, Nadia melangkah menuju ruang tes dengan langkah super tegap. Dalam hati Nadia berucap, bismillah, hufh.

            Sudah 30 menit. Nadia berhasil mengikuti serangkaian tes kesehatan dengan baik. Tinggal dua tes lagi, tes narkoba dan buta warna. Tentu saja dia lulus tes narkobanya. Sekarang tes buta warna lagi, hufh. Nadia kembali bergumam.

            Nadia digiring menuju meja tes buta warna. Gadis itu duduk. Di atas meja di hadapannya Nadia melihat sebuah buku, tulisannya jadi terbalik. Agak kesulitan Nadia membacanya. Colour Blind. Itu yang terbaca olehnya.

            Dokter yang bertugas mengetes Nadia duduk di hadapannya. Beliau tersenyum, bermaksud mengurangi nervous Nadia. “Hufh.” Satu-satunya yang terucap oleh Nadia.

            Buku tes dibuka. Nadia melihat titik-titik bertumpuk, membentuk gambar tidak jelas, mirip gambar awan di film Spongebob.

            “Bisa melihatnya?” tanya Dokter Anton.

            “Uhm, bi..sa…,” Nadia menjawab tersendat.

            “Berapa?” tanya Dokter Anton lagi.

            Haaah?! Berapa? Kok ditanya berapa? Nadia gelagapan.

Mungkin ditanya berapa awannya, ya.. “Hm, satu, Dok,” Nadia mencoba tenang.

            Dokter Anton diam saja. Dia kembali membuka halaman berikutnya. Kemudian bertanya kembali, “Berapa, Dik?”

            Beruntung kali ini yang Nadia lihat bukan awan, tapi sebuah bilangan. Bilangan yang Nadia tidak tahu pasti berapa. “Hm, lima enam, Dok.” Nadia mulai panik.

            Halaman demi halaman dibuka. Nadia gugup. Dia menyebutkan angka-angka di buku tes itu dengan terbata-bata. Suaranya serak, pertanda tubuh Nadia gemetaran di depan buku tes itu.

            Tes selesai. Nadia menunggu hasil tes. Perasaannya tidak menentu. Tes yang terakhir ini kurang lancar. Matanya mulai berkaca-kaca. Yang dia rasakan hanyalah, ketakutan.

            Sejurus kemudian kertas hasil tes diberikan pada Nadia. Gemetaran Nadia membukanya. Di kertas tersebut terdapat  tujuh deret nomor indikator hasil tes. Nadia mendapati nomor 3, diberi tanda lingkar, dengan tulisan Buta Warna Hijau! Warna kesukaan Nadia.

            Nadia bergeming. Matanya tak berkedip membaca kertas paling mengerikan yang pernah dilihatnya. Hampir tak dijaganya kertas itu di tangannya. Akhirnya Nadia memangkunya. Beberapa saat Nadia terdiam. Tak satu kata pun muncul dari bibir manisnya. Nadia mencoba berdiri. Tapi dia tidak bisa merasakan kakinya. Namun Nadia buru-buru ingin melangkah, dan sekarang dia tidak bisa merasakan matanya.

            Bruk.

            Nadia pingsan.

***

            “Nad.. Nad.. Bangun, Nad.. Kamu bisa dengar aku?” Sayup-sayup Nadia mendengar suara orang yang dia kenal. Cita menggenggam erat tangan Nadia.

            Pelan Nadia membuka matanya.  Dia melihat Cita tersenyum, “Kamu pingsan dua hari, Nad.”

Tidak seperti biasanya, Nadia hanya diam, “Pergi.” Kata pertama dan satu-satunya yang terucap setelah dirinya terdiam beberapa saat.

            Beberapa teman Nadia yang datang menjenguk di kamar indahnya itu terkejut, Nadia yang ramah dan lembut, tiba-tiba berkata sangat ketus.

            “Aku bilang pergi!!” Sekarang Nadia setengah berteriak.

            Satu persatu teman-temannya meninggalkan kamar Nadia. Cita masih di sampingnya. Mencoba menghibur Nadia. “Nad, aku mengerti perasaanmu. Kamu yang sabar, ya.”

            Nadia malah marah, ”Keluar kamu! Tidak ada yang mengerti perasaanku!”

            “Tapi, Nad. Aku..”

“Pergiii!!!” Mata Nadia merah, dia benar-benar marah.

Cita yang merasa Nadia perlu sendiri, beranjak pergi. Tinggal Nadia yang terbaring lemah di springbednya, terkulai sendirian. Setetes bulir bening keluar dari pelupuk mata Nadia, menuruni pipinya, dan akhirnya mengalir deras, Nadia menangis sejadi-jadinya. Ingin rasanya dia berlari, menghilang ditelan samudera, atau jadi patung saja. Perasaan sedih, malu, marah dan kecewa bercampur aduk dalam tubuh kurusnya.

            Kenapa jadi begini?! Aku harus bagaimana? Kenapa harus aku yang mewarisi penyakit ini, kenapa bukan kak Andi?! Kenapa juga ayah buta warna? Bagaimana hidupku nanti? Mana bisa jadi dokter kalau aku buta warna? Mana  ada perusahaan yang mau menerima pegawai buta warna?! Apa maksud semua ini?! Kenapa jadi begini?! Kenapa?!

            Kenapaaa?!!!

            Nadia membatin sendiri. Marah-marah. Dia tidak tahu harus menyalahkan siapa.

Tertarik? Yuk, ke bagian dua ^^

__________________________

Source: http://adekfi.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s