KEUTAMAAN SAHABAT

Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah saw bersabda: Akan datang suatu masa kepada manusia, dimana sekelompok orang berangkat berperang lalu ditanyakan: “Adakah diantara kalian yang termasuk sahabat Nabi?” Maka mereka menjawab: “Ya”. Lalu dibukakanlah (kemenangan bagi mereka). Kemudian datang suatu masa kepada manusia, dimana sekelompok orang berangkat berperang, lalu mereka ditanya: “Adakah diantara kalian yang bertemu dan berkawan dengan sahabat Nabi (tabi’in)?” Maka mereka menjawab: “Ya”. Lalu dibukakanlah (kemenangan bagi mereka). Kemudian datang suatu masa kepada manusia, dimana sekelompok orang berangkat berperang lalu ditanya: “Adakah diantara kalian yang berkawan dengan orang yang bertemu dan berkawan dengan sahabat Nabi (tabi’ut tabi’in)?” Maka mereka menjawab: “Ya”. Lalu dibukakanlah (kemenangan bagi mereka).

Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sebaik-baiknya umat adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya.

Imran berkata, “Aku tidak tahu apakah beliau menyebut dua atau tiga generasi setelah generasi beliau saw, kemudian setelah generasi kalian ada satu kaum yang bersaksi tapi tidak layak diminta persaksian, mereka tidak jujur, dipandang tidak dapat dipercaya, mereka diperingati tapi tidak menetapi, dan nampak kegemukan dalam diri mereka”

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, berkata, Nabi saw bersabda: Janganlah kalian mencaci sahabatku. Seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya (hal itu) tidak akan sebanding dengan infak satu mud emas sahabatku, (dan bahkan) tidak (akan sebanding dengan infak) setengah mud emas (mereka).

Rasulullah saw bersabda: Demi Allah, Allah melindungi para sahabatku. Janganlah kalian merusak kehormatannya setelahku. Barangsiapa mencintai mereka, maka dengan cintaku aku mencintainya, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku aku membencinya. Barangsiapa yang menyakitinya, maka sungguh dia telah menyakitiku, dan barangsiapa yang membenciku, maka sungguh ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah maka dipastikan ia akan segera disiksa oleh-Nya.

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Nabi Muhammad saw mendaki ke Gunung Uhud, beliau berangkat bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman. Sekonyong-konyong Gunung Uhud bergetar, lalu beliau saw menghentakkan kakinya, seraya bersabda: Diamlah wahai Uhud, yang ada diatasmu ini tidak lain adalah seorang Nabi, as-Shiddiq (gelar Abu Bakar), dan dua orang yang gugur sebagai syahid (Umar dan Utsman).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat diriku berada di samping suatu sumur, yang diatasnya terdapat sebuah timba. Timba itu kemudian dilepaskan dengan kehendak Allah. Lalu Ibnu Abi Quhafah mengambilnya dan menimba satu atau dua timba penuh air. Ketika menimba ia merasa lemah, semoga Allah mengampuni kelemahannya, lalu timba kecil itu diganti dengan timba yang besar, kemudian diambil oleh Umar bin Khaththab, dan aku belum pernah melihat orang hebat yang bisa menimba sebanyak Umar, hingga membuat orang-orang minum dan menderum sepuasnya.

Dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwasanya ia berwudlu di rumahnya, lalu keluar seraya berkata: “Aku harus menemani Rasulullah saw, dan (berada) bersamanya selama hari ini”. Lalu aku mendatangi masjid dan menanyakan beliau saw, para sahabat berkata: “Beliau saw keluar dan menuju kearah sana”. Aku pun keluar tidak lama sesudah beliau saw keluar, hingga beliau saw memasuki mata air Aris. Kemudian aku menunggunya disamping pintu sumur yang terbuat dari pelepah kurma, hingga Rasulullah saw selesai menunaikan hajatnya. Beliau kemudian berwudlu, lalu aku berdiri menghampirinya. Saat itu beliau sedang duduk diatas bagian yang kering dari sumur tersebut, beliau menyingkapkan kain dari kedua betisnya dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Lalu aku mengucapkan salam kepadanya, kemudian pergi dan duduk di samping pintu. Aku katakan bahwa aku akan menjadi penjaga pintu bagi Nabi pada hari ini. Kemudian Abu Bakar datang dan mendorong pintu, lalu aku bertanya, “Siapa ini?”. Ia menjawab, “Abu Bakar”. Aku berkata: “Pelan dan hati-hatilah”. Kemudian aku pergi dan berkata: “Wahai Rasulullah, Abu Bakar meminta ijin masuk”. Belliau saw bersabda: “Ijinkanlah dia (masuk), dan berilah kabar gembira bahwa surga diperuntukkan baginya”. Lalu aku berbalik pergi, dan berkata kepada Abu Bakar: “Masuklah engkau dan Rasulullah saw memberikan kabar gembira bahwa surga diperuntukkan bagimu”. Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasullllah saw, Abu Bakar menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, dan menyingkapkan kain dari kedua betisnya. Aku kembali dan duduk di tempat semula, aku tinggalkan temanku itu berwudlu dan menyusulku, aku berkata: “Jika Allah menginginkan kebaikan pada seseorang, maka dia menginginkan saudaranya datang.” Setelah itu seseorang menggerakkan pintu, melihat itu aku bertanya: “Siapakah ini?” Orang itu menjawab: “Umar bin Khaththab”. Aku berkata: “Pelan dan hati-hatilah”. Kemudian aku pergi dan berkata: “Wahai Rasulullah, Umar meminta ijin masuk”. Belliau saw bersabda: “Ijinkanlah dia (masuk), dan berilah kabar gembira bahwa surga diperuntukkan baginya”. Lalu aku berbalik pergi dan berkata kepada Umar: “Masuklah engkau, dan Rasulullah saw memberikan kabar gembira bahwa surga diperuntukkan bagimu.” Maka Umar pun masuk dan duduk disebelah kiri Rasulullah saw di tanah kering tersebut. Aku pun kembali dan duduk di tempat semula, dan berkata: “Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seseorang, maka dia akan datang.” Setelah itu seseorang datang menggerakkan pintu, aku bertanya: “Siapakah ini?” Ia berkata, “Utsman bin Affan”. Aku berkata: “Pelan dan hati-hatilah”. Kemudian aku pergi dan berkata: “Wahai Rasulullah, Utsman meminta ijin masuk”. Belliau saw bersabda: “Ijinkanlah dia (masuk), dan berilah kabar gembira bahwa ia akan masuk surga atas musibah yang menimpanya”. Lalu aku berbalik pergi dan berkata kepada Utsman: “Masuklah engkau, dan Rasulullah saw memberikan kabar gembira bahwa engkau akan masuk surga atas musibah yang menimpamu”. Utsman pun masuk, dan didapatinya tempat yang kering itu telah penuh, lalu ia duduk menghadap Rasulullah saw dari sisi yang lain.

Syuraik bin Abdullah berkata: Sa’id bin Musayyab berkata: “Maka aku menakwilkan peristiwa itu dengan pemakaman mereka.” Dari Barra ra, ia berkata: Nabi saw bersabda: Orang Anshar tidak akan dicintai kecuali oleh orang mukmin, dan tidak akan dibenci kecuali oleh orang munafik. Maka, barangsiapa mencintai mereka, ia akan dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang membenci mereka maka ia akan dibenci oleh Allah. Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: Tanda keimanan seseorang adalah cinta kepada kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah benci kepada kaum Anshar. [M]

(Unknown Author)

Iklan

Posted on 23 Agustus 2011, in Al Islam, Motivasi, Nasihat and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: