Cinta (halal) Jarak Jauh

Fenomena unik. Harusnya ini memang saya tulis sejak dulu. Tapi, baru sekarang bisa saya ‘tumpahkan’, karena nampaknya kok makin populer saja.. :-)

Pasti para pembaca heran kenapa ada label ‘halal’ di judul saya. Alasan saya hanya satu. Sorotan atau pengamatan saya sama sekali tidak berlaku untuk cinta yang tidak halal (pacaran, HTS, tunangan, pesan2an, dll) tapi hanya berlaku untuk cinta yang telah diresmikan dalam ikatan suci yang bernama ‘pernikahan’. Sebab, cinta tanpa ikatan pernikahan hanyalah nafsu. Mutlak nafsu. Jadi jarak jauh kek, jarak dekat kek, kalau yang dipakai hanya nafsu yang ada ya cuma ‘rasa bersalah’, ‘kepalsuan’ dan dosa. Sama sekali tidak ada kenyamanan (tentram) disana.

Tidak usah membahas terlalu panjang untuk cinta (haram) jarak jauh, tapi kita bahas saja cinta (halal) jarak jauh. :-)

Beberapa saat yang lalu saya menghadiri walimahan atau pesta pernikahan teman sekelas saya kuliah. Ceritanya, teman saya ini juga akan bergabung dalam komunitas pelaku LDR (Long Distance Relationship). Sebab dia akan kembali ke Kalimantan, sedang istrinya masih harus kuliah di Solo. Alhasil, mereka hanya akan bertemu ketika sang istri libur semester.

Sebagai senior dalam kasus ini (bulan ini saya genap 8 bulan LDR-an dengan suami), saya mencoba membagi kisah dengan si ‘adik’, istri teman saya yang bakalan berpisah sementara setelah baru 2 minggu menikah (mirip juga dengan saya).

Saya merasa perlu membagi kisah dengan pengantin baru tersebut akan ‘indahnya’ hari-hari yang dia lalui sendiri, tanpa suami di sisi. Pesan yang saya sampaikan standar, begitu standar. Yang pertama mungkin sangat sering didengar, komunikasi. Apalagi jaman sudah canggih. Komunikasi by video cukup mengobati rindu, meski tidak sepadan dengan bertemu langsung (ya iyalah…. :-P )

Yang kedua, adalah kata kunci bagi saya. Sabar dan Syukur.

Sabar, dengan sabar yang berlebih. Tanpa batas. Sebab membatasi kesabaran itu sama saja dengan menghentikan waktu. Hubungan jarak jauh pada hakikatnya adalah berhadapan dengan waktu. Bertemu kembali itu keniscayaan (insya Allah), tapi sekali lagi, hanya masalah waktu. Terkadang, saat kondisi perasaan (terutama wanita) sedang sensitif, kesabaran mulai bergejolak.

Mulai mengeluh atas waktu yang berjalan begitu lambat, menunggu dan memikirkan pasangan serta mengucapkan “kangen, rindu…” berkali-kali sampai suara habis, tetap saja tidak segera menjumpakan kita sampai pada saat untuk bertemu kembali. Jadi, memang tidak ada kata lain selain BERSABAR….

Lagipula mesin waktu doraeman itu hanya isapan jempol. Kita hanya manusia biasa, yang tidak bisa menghindar dari ‘waktu’ tapi kita hanya bisa melaluinya..

Selanjutnya adalah syukur. Inilah yang kadang obat yang paling manjur saat kata kunci ‘sabar’ mulai goyah.

Untuk menggapai syukur, banyak cara bisa dilakukan.

Pikirkanlah orang-orang yang sampai pada usia yang mungkin lebih senior dari kita tapi belum berjumpa dengan jodohnya. Mereka justru benar-benar tidak tahu harus sampai kapan menanti. Sedangkan kita masih bisa menerka-nerka dan memastikan akhir dari penantian (bertemu kembali dengan pasangan).

Meraih syukur, bisa dengan memikirkan kekasih halal kita, dengan segala kelebihannya. Dengan segala keunikan dan keistimewaan yang membuat kita semakin mencintai dan merindukannya. Memikirkan ia yang telah halal untuk kita pikirkan, kita rindukan, dan juga kita pun telah halal untuk membayangkan sosoknya siang malam.

Dia yang memilih kita dari sekian banyak pilihan di dunia. Bagaimana mungkin kita tidak BERSYUKUR….

Hanya masalah waktu, insya Allah. Sebab ikatan yang halal membuat segala hal yang bisa  menghalangi godaan-godaan dan tekanan saat hubungan jarak jauh menjadi teratasi.

Ikatan yang halal menjadikan Allah sebagai tumpuan, untuk tetap menjaga kebarokahan pernikahan..

Ikatan yang halal menjadikan kata-kata cinta dan rindu telah terbingkai dengan syariatNya,.. saat cinta dan rindu berbuah pahala..

Duhai Suamiku yang sedang di negri orang,.. sungguh, cinta ini membuatku semakin merindukanmu..rindu ini membuatku semakin mencintaimu……

______________________

Source: Sonia Zone

Iklan

Posted on 23 Agustus 2011, in Al Islam, Jendela Keluarga and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: