Diposkan pada Indonesia, Kabar Terkini, Opini

FPI Mengungkap Perusahaan Woman Trafficking Terbesar di SOLO

FPI  Mengungkap Perusahaan

Woman Trafficking Terbesar di SOLO

           (Solo 19/8/2011) Kejahatan Woman Trafficking di Solo ternyata bukan sekedar isapan jempol. Hal ini terbukti dari hasil investiagsi FPI Solo. Sangat mencengangkan, ternyata data yang didapat di lapangan lebih mengerikan dari sekedar isu yang sudah menyebar. Pada awalnya, woman Trafficking hanya dicruigai di beberapa titik dan penyebarannya di lingkup kecil serta terbatas pada kalangan tertentu. Tetapi setelah dilakukan penyelidikan, yang ada di lapangan lebih banyak. Ungkap Ustadz Chairul, Ketua FPI Solo.

“Kami melakukan investigasi sejak  dua setengah tahun yang lalu (sejak 2009), dan hampir tiap dua kali dalam sepekan kami melakukan investigasi, sehingga kami sudah memiliki bukti yang sudah cukup untuk menuntut Koko pemilik perusahaan trafficking .” Ujar Chairul.

Hanya saja yang sangat disayangkan, ketika kasus yang sangat mengerikan ini dilaporkan kepada pihak keamanan, Poltabes Surakarta, tanggapannya sangat mengecewakan, cenderung diabaikan. Dan tidak ada tindakan yang nyata dari pihak kepolisian. Karena tidak ditanggapi dengan baik, FPI Solo merasa harus bertindak segera. FPI akhirnya pada 10 Juli lalu, meminta tempat-tempat yang dijadikan ‘Toko’ penjualan perempuan (woman trafficking pada) ditutup atau beralih profesi.

Walau Koko, pemilik perusahaan woman trafficking, sudah disidang dengan bukti-bukti yang akurat, hingga hari Selasa lalu (16/8/2011), Pengadilan Negeri Surakarta belum memutuskan hukuman final bagi Koko. Memang jaksa telah menuntut hanya 10 bulan penjara bagi Koko dengan alasan; karena pelacurnyatidak dipaksa, dan tempatnya cuma transit, tapi hingga hari Selasa tanggal 16 Agustus hakim belum mengetuk palu.

Tentu keputusan ini tidak sesuai dengan undang-undang woman Traffiking. Dalam undang-undang woman trafficking hukuman bagi pelakunya adalah 6 tahun penjara (KHUP, pasal 297) Ini salah satu yang membuat FPI tidak puas dan memberi hadiah CD (Celana dalam) dan BH kepada jaksa yang memipin sidang selasa 16 Agustus. Selain karena tidak sesuai dengan undang-undang woman trafficking yang sudah diputuskan pemerintah Indonesia, juga kejahatan Koko sangat sadis, ia memiliki beberapa tempat penjualan yang bertebaran di Solo.

“Bahkan” kata Chairul, “dalam investigasi FPI ditemukan buku pemasaran wanita milik Koko. Di sana ada nama tempat pemasarannya, tanggal penjualan, harga, nama barang (wanita yang dijual) dan pembeli beserta profesi pembelinya. Jadi woman traffiking ini sudah menjadi semacam usaha. Dan Koko adalah pengusahan sukses dalam masalah ini. Ia sudah memulai profesinya sejak umur 23 tahun. Sekarang ia sudah berumur  54 jadi ia sudah 31 tahun menekuni profesinya.”

Modus operandi penjualan wanita yang dilakukan Koko yang tinggal di Jalan R.M. Saaid, Pasar Nongko, Solo no. 190, yang sekaligus menjadi penampungan, cukup handal. Para wanita yang akan dijual cukup dipajang di ruang kaca disertai nama dan harganya. Pembeli cukup datang dan melihat dari luar kaca bening tadi lalu menyebut nama yang dibeli, terjadilah transaksi  lalu wanita diboyong oleh pembeli. Tarifnya beragam antara 300 hingga 700 ribu rupiah. Tergantung lamanya waktu pakai, kecantikan dan jenisnya (indo, cina, barat atau arab). Pembelinya pun dari berbagai kalangan, kebanyakan pejabat, DPR atau Polisi dan juga para pengusaha.

“Penjualannya cukup unik, wanita dipajang di ruang kaca,  yang boking tinggal lihat dari luar dan menunjuk yang diinginkan. Lalu terjadilah transaksi. Dan ternyata ini seperti jaringan internasional. Pasalnya kami pernah menemukan pelacur dari Rusia. Saya mencurigai begitu.” Terang Chairul.

Memang mengharapkan keadilan di tengah ketidak berdayaan hukum di Indonesia membuat rakyat Indonesia pesimis. Demikian juga dirasakan oleh para aktifis Islam termasuk FPI yang mengungkap kasus trafficking. Sogok menyogok sudah diajarkan oleh KPK dan Nazaruddin juga mengungkapkan ketika Partai Demokrat,partai asuhan bapak Presiden SBY, mengadakan musyawarah pemilihan Ketum, membagi-bagikan uang sekitar 5 miliyar yang dibawa mobil boks ke Bandung. Jadi andaikan para penjahat diadili, selama ia tidak memiliki dan membawa label Islam, hukumannya bisa dipastikan cacat. Ibarat pepatah, “Menulis di atas air” mewarnai zat sangat cair dengan zat cair yang sedikit. Tentu tidak akan terwarna. Mengadili penjahat ke pengadilan yang penuh mafia dan di pemerintahan yang jahat, hasilnya hanya kekecewaan.

(Oleh: Izzul/An-Najah)

Source: http://www.muslimdaily.net

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s