Diposkan pada Smar Teen

Mengawal Hati Jauhi Dusta

HATI dalam tubuh manusia ibarat raja di sebuah negeri, di mana semua warga negara, baik militer maupun sipil, baik politikus maupun agamawan, semua tunduk kepadanya. Hati adalah raja, seluruh anggota tubuh laksana prajurit yang siap melaksanakan titahnya.

Bila hati sehat dan adil, maka semua titahnya pun menuju kebaikan, istiqamah, iman dan amal shalih yang pada akhirnya menghantarkan ke surga. Sebaliknya, jika hati sedang sakit, maka instruksi yang keluar otomatis diikuti oleh anggota jasad akan mengarah kepada perbuatan dosa, maksiat, kejahatan dan penyimpangan dari jalan yang haq.

Rasulullah SAW bersabda:

“…Ketahui­lah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jikalau ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, ia adalah hati” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darimi, dari Nu’man bin Basyir RA).

…Meluruskan, menyehatkan dan menjaga hati adalah pekerjaan besar setiap insan yang mendambakan kebaikan dan keselamatan dunia-akhirat…

Maka meluruskan, menyehatkan dan menjaga hati adalah pekerjaan besar setiap insan yang mendambakan kebaikan dan keselamatan dunia-akhirat. Sekecil apapun penyakit hati, harus diobati sedini mungkin supaya tidak mengganas. Awas, jangan salah obat dengan tarekat-tarekat yang bid’ah maupun amalan yang tidak jelas dari mana sumbernya. Untuk manajemen qalbu, obatilah hati yang sakit dengan resep mujarab dari Al-Qur‘an dan Sunnah.

Salah satu buah penyakit hati adalah dusta, yaitu mengabarkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Dusta adalah sifat tercela yang tidak pantas dimiliki oleh orang yang beriman. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa para pendusta pada hakikatnya tidak memiliki iman kepada ayat-ayat Allah.

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (An-Nahl 105).

“Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” (Al-Jatsiyah 7).

Bila kejujuran adalah syiar yang menjadi pakaian orang-orang mukmin, maka sebaliknya dusta adalah tanda-tanda orang munafik. Allah Ta’ala berfirman:

“…Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta” (Al-Munafiqun 1).

Berangkat dari sebuah kebohongan, maka seseorang tak segan-segan untuk merekayasa dua kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang pertama…

Di Akhirat nanti Allah akan membangkitkan para pendusta dengan wajah yang hitam pekat di neraka Jahanam.

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Qs. Az-Zumar 60).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunnah secara umum menunjukkan tentang keharaman berdusta. Dusta adalah dosa dan aib yang teramat buruk. Konsensus umat Islam dan nas-nas yang jelas juga telah menetapkan keharaman berdusta.”

Meski sifat dusta itu berbahaya, tapi nafsu manusia mencari popularitas, takhta, dan kekayaan duniawi, sering bisa membuat mereka nekad dan lupa diri. Apapun dilakukannya untuk kekuasaan dan ketenaran di mata manusia, misalnya dengan melakukan kebohongan dan fitnah.

Ingatlah dan camkan baik-baik wasiat orang bijak ini. Hati yang semula jernih dan suci, ketika sekali saja berbohong, maka kebohongan itu akan terus menghantui dan memenjarakan dirinya. Dia akan ketakutan jika sewaktu-waktu kebohongannya itu terbongkar. Maka dia akan terus menutupi kebohongannya agar kehormatannya selamat.

Berangkat dari sebuah kebohongan, maka seseorang tak segan-segan untuk merekayasa dua kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang pertama. Dan begitulah, dia terus berbohong, menutupi satu kebohongan dengan kebohongan-kebohongan lain. Saking seringnya dia berbohong, hatinya pun menjadi bebal, tak lagi mengenal mana yang jujur dan mana yang bohong. Baginya, kejujuran atau kebohongan adalah sama saja. Na’udzubillah min dzalik.

Seseorang sukses berbohong, hal itu sebenarnya bukan karena dia piawai dalam menyembunyikan kedustaan. Dia bisa ‘sukses’ justru karena Allah belum membukakan aib-aibnya. Allah Maha Tahu segala kebohongan, amat mudah bagi-Nya untuk membeberkan apapun yang Dia kehendaki. Dan bila Allah berkehendak membeberkan semua kebohongan itu, maka tak ada yang dapat menghalangi-Nya. Maka alangkah pahit ketika hancur nama baik kita di dunia ini, lalu di akhirat kelak kita akan dipanggil sebagai pendusta. Na’udzubillah.

Marilah kita hidup dengan jujur perkataan. Satukan kata dan perbuatan dengan syariat Ilahi agar menjadi manusia yang diridhai-Nya. Sebuah kunci agar kita tidak berdusta adalah jangan mengharap orang lain menilai diri kita lebih dari keadaan yang sebenarnya. Belajarlah selalu untuk realistis, menerima kenyataan hidup apa adanya. Syukuri setiap kebaikan yang ada, dan ikhlas mendengar penilaian negatif orang lain. Dan jangan coba-coba berdusta agar tidak kecanduan! [a. azka izzatillah/voa-islam.com]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s